NEWS

Posted on: 14 Nov 2011
Share: Share on Facebook
Read 2144 times.

Part 3

Hari berikutnya, tanggal 12 Juli, saya dan Edwin Marshal (atau Edwin Cokelat) bertemu untuk sesi rekaman di Nasional Studio, sebuah studio rekaman (dan latihan) professional yang dulunya bernama HB studio. Shift Studio kali ini merupakan bantuan dari mas Harry Budiman, seorang composer dan produser yang menelorkan Elemen dan Tangga, dan kebetulan juga pemilik studio ini.(thanks ya maaas..). Edwin rencananya akan merekam lagunya yang berjudul ‘Hayal’.  Untuk sesi rekaman kali ini, Edwin membutuhkan pemain drum dan pemain bass. Rama Moektio ,mantan drummer ADA band, yang sekarang aktif di Cockpit, putra dari Rama Moektio  drummer God Bless sekarang, berkenan membantu.  Bass tadinya akan dimainkan olehh Edwin sendiri, tapi saya teringat tetangga saya yang adalah pemain bass, tidak lain tidak bukan dia adalah J Mono dari Alexa band. Tanpa banyak bertanya, Mono langsung mengiyakan ajakan saya tersebut. Jadilah trio baru hari itu, Edwin, J Mono dan Rama Moektio. Sesi rekaman sebenarnya dimulai dengan live recording mereka bertiga, tapi akhirnya demi hasil yang lebih sempurna , masing masing melakukan overdub. Rama sendiri bermain sangat bebas di lagu ini, ynag menurut saya sebenarnya agak keluar dari konsep awalnya. Tapi itu lah seni. Ketika kita membebaskan diri, sering kali justru menambah nilai dari karya itu sendiri. Rama menyumbangkan beat beat stabil dan bertenaganya, tapi pada saat mengisi fill nya, dia menggunakan hitungan hitungan yang tidak lazim. Good Job. J Mono sebagai bassist ternyata justru senang dengan situasi ini, dia bermain nyaman tetapi tetap menempel pada beat Rama. Disini saya baru tahu ternyata J Mono mempunyai basic jazz dalam permainannya. Edwin pun tersenyum lebar karena komposisi yang dibuatnya menjadi semakin kaya dan bertenaga (sumpah dwin, beda banget ama demo ha ha ha). Ketika tiba giliran Edwin take ,semuanya semakin jelas, komposisi yang melodius ini ternyata sudah sangat nempel di otak Edwin. Tapi isian dari Rama dan J Mono membuat Edwin agak berpikir lebih keras untuk mengimbangi mereka. Coba nanti anda dengarkan bagian Coda dari lagu Hayal ini, kalo istilah saya, “ Cariin air dong, jari Edwin mulai ber asap nih…”. Pengaruh Marty Friedman dan Joe Satriani bisa dirasakan disini. Cool.  Sesi rekaman ini berakhir sekitar pukul 21.00.

 

Salah satu ‘kunjungan’ yang juga berkesan adalah ketika bertemu Coki Netral. Coki meminta saya untuk bertemu dengan nya di sebuah studio latihan di daerah Tebet.  Sebuah daerah yang saya kurang begitu hapal sebenarnya. Jadi dalam perjalanan kesana saya memutuskan sambil  menelpon hp nya Coki,untuk mengetahui letak pastinya. (FYI Coki tidak memberikan alamat, hanya ancer ancer saja), telpon tidak   diangkat. Semakin dekat dengan Tebet saya telpon lagi, dan telpon belum diangkat juga. Saya mulai panic karena terus terang saya tidak mau kesasar. Akhirnya telpon saya yang ketiga diangkat. Tapi bukan suara Coki. Dan terjadilah percakapan yang membingungkan. Orang tersebut berkali kali bertanya siapa saya dan ada urusan apa. Saya jelaskan identitas saya, tapi sepertinya dia tidak tahu dan tidak mau tahu. Bahkan nada bicara nya setengah membentak. Terus terang saya lebih ke bingung daripada marah..tak lama kemudian tiba tiba terdengar keheningan dan suara Cokilah yang terdengar. Sembari tertawa tawa dia bilang, “Itu tadi Om Bagus (netral) Pong….”. Wa hahahaha….barulah saya paham bahwa saya sedang dikerjain sama Om Bagus Netral si manusia super jahil se-Asia Tenggara. Satu -kosong ya Om. Akhirnya dengan dipandu Coki saya sampai juga di Studio latihan yang dimaksud. Saya langsung disambut hangat oleh Coki dan diajak langsung masuk ke dalam studio. Disana saya lihat Om Bagus dan Eno sedang duduk dilantai sembari cengar cengir kesuksesan.  Beginilah Netral, grup Punk Rock Indonesia yang disegani baik kawan maupun lawan. Super Jahil. Disana saya juga bertemu dengan mas Puput, manajer Netral yang peran nya sangat besar dalam karir Netral, dan tanpa membuang waktu saya langsung menjelaskan perihal Project 1000 Gitar ini. Komposisi yang diberikan Coki untuk proyek ini berjudul U.F.O. dan….yah sesuai judulnya komposisi ini sangat unik tanpa kehilangan spirit rock metalnya. Kalau dalam istilah saya heavy rock progressif industrial (semoga berkenan dengan istilah ini Cok). Komposisi ini dengan amat gamblang menunjukkan kemampuan Coki sebagai Gitaris dari sisi lain. Very good technic and taste. Dan yang lebih penting tetap melodius sekaligus bertenaga untuk didengarkan.   Indonesia , kalian mesti mendengar komposisi ini!

 

Ooops , saya jadi hamper lupa menceritakan tentang lagu saya sendiri 1 Gitar, 1000 Nada. Bisa dibilang ini lagu ‘pesanan’. Pesanan dari Adib dan Ricky pada saat miting kami yang pertama. Sepulang dari miting, malamnya saya membuat lagu ini, dan saya sempurnakan beberapa hari kemudian. Untuk musiknya saya meminta bantuan Baim untuk membuat aransemen. Saya yakin Baim adalah orang tepat untuk ini, karena selain dia gitaris, dia adalah multi instrumentalist yang baik. Baim membuat arransemen lagu ini dengan pengaruh pop country .  Konsep yang menarik dari lagu ini adalah, di bagian interlude nya diisi oleh 9 gitaris Indonesia! Pemilihan ke 9  gitaris ini berdasarkan perbedaan usia dan genre. Mereka adalah Baron, Eross Sheila on 7, Dewa Budjana, Baim, Cella Kotak, Piyu, Gugun –Gugun and the Bluesshelter , Abdee dan terakhir Ian Antono (Pada saat pembuatan video klip, akhirnya Ricky Siahaan menamai ‘grup’ ini dengan nama Aliansi Gitar Indonesia).  Sebuah proses yang hampir tidak mungkin kelihatannya. Sangat sulit mengumpulkan semua gitaris ini dalam satu sesi rekaman. Tetapi Puji Tuhan, karena kemajuan teknologi, rekaman bisa dilakukan terpisah distudio masing masing dengan kita saling berkirim data.. Hanya Gugun saja yang rekamannya dilakukan distudio saya. Eross sendiri melakukan rekaman di Yogyakarta. Saya sangat salut buat mereka yang ditengah kesibukan nya (really really busy ,I tell you) masih menyempatkan untuk take interlude di part masing masing walaupun itu berarti harus begadang tengah malam atau harus bangun pagi karena harus mengejar flight penerbangan siang hari. Hormat saya yang tak terhingga buat mereka. Kendala muncul di sisi vocal. Siapakah yang bakal menyanyikan lagu ini. Saya sendiri sebenranya berniat menyanyikan nya, tetapi saya rasa saya kurang pas membawakan lagu ini. Atas usul Budjana, lagu ini baiknya dinyanyikan oleh gitaris gitaris juga, supaya makin jelas tujuan nya. Sebuah ide yang brilian ! Akhirnya terpilihlah Baim, Gugun dan Kin the Fly. Baim melakukan rekaman di studio pribadinya Miharbi studio. Sedangkan Gugun dan Kin menyempatkan untuk datang ke studio saya, RR studio. Gugun datang sekitar pukul 7 malam, dgn membawa gitar andalan dia. Buatan Indonesia , signature series Gugun. Saya sebagai penggemar gitar juga, terkagum kagum dengan kualitas gitar made in Indonesia ini, benar benar  keliatan seperti gitar buatan luar negeri. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia mampu untuk membuat gitar berkwalitas internasional. Sesi rekaman vocal untuk partnya Gugun berlangsung sangat cepat , hanya 15 menit saja! Kemudian kami lanjutkan dengan sesi rekaman gitar. Part ini pun berlangsung hanya 10 menit saja, karena nada dan sound yang dihasilkan sudah  sesuai kebutuhan lagu. Ada kutipan yang menarik dari Gugun. “ Lebih baik note terakhir dari melodi saya ini saya arahkan ke nada rendah, supaya gitaris sesudah saya bisa langsung mengambil nada lanjutan nya dengan leluasa. Seperti mempersilahkan. “  (part interlude dilakukan secara marathon oleh 9 gitaris ini). Sebuah ucapan yang menunjukkan kedewasaan dalam bermusik.  Gugun dan bandnya Blues Shelter adalah band yang tengah banyak mendapat sorotan sekarang ini. Prestasi band ini telah sampai di luar negeri dan mereka tidak akan berhenti disana. Gugun secara gambling dan focus menjelaskan visi dan misi dia,akan dibawa ke arah mana band ini. Semangat yang luar biasa dari seorang maestro blues Indonesia. Dan seperti yang sudah sudah, rekaman hanya berlangsung sebentar tapi obrolan bisa sampai berjam jam ha ha ha..ditemani siomay andalan keluarga (J Mono Alexa paham maksud saya) maka sesi rekam kami malam itu sempurna. Kin datang beberapa hari sesudahnya. Kin yang sedang disibukkan dengan The Fly-nya yang sedang mengeluarkan  single baru, datang jam 1 siang ke studio saya, justru ketika saya belum dirumah karena masih melakukan tugas sebagai rocker. Yaitu menemani istri belanja sayur mayor he he he. Ketika saya datang, saya langsung meminta maaf karena membuatnya menunggu. Kin yang saya kenal tidak sama dengan karakter Kin yang di the Fly, Kin dalam keseharian adalah pribadi yang sederhana dan teman bicara yang menyenangkan. Kami malah sedikit sekali berbincang mengenai gitar (Kin sangat paham akan kecanduan saya akan gitar gitar ha ha ). Kami lebih banyak menyoroti dunia musik di Indonesia sekarang dan berbagai macam strategi untuk bisa tetap bertahan di musik Indonesia. Dari pembicaraan ini saya bisa melihat bahwa Kin sangat mencintai the Fly sebagai rumahnya. Sesi rekaman vocal siang itu agak terhambat karena suara Kin belum ‘panas’..jadi baru kurang lebih 30 menit sesudah pemanasan, baru vokalnya bisa memuaskan. Seperti yang sudah kita tahu , vocal Kin sangat khas dan akan selalu mengingatkan kita pada the Fly. Pertanyaan yang paling sering dia dengar adalah, kenapa tidak dia aja yang menjadi vokalis the Fly ? Kin hanya menggeleng sambil tersenyum…Good answer ha ha ha. Setelah rekam selesai, Kin harus segera pergi untuk menuju ke sebuah radio swasta untuk promo interview the Fly. Thanks brother untuk meluangkan waktunya !

Di tanggal 12 Juli, berbarengan dengan sesi rekaman Edwin Cokelat, Rama Moektio membantu juga untuk mengisi drum di lagu ini. Sebuah ide yang sederhana tapi perlu pengerjaan yang cukup rumit. Lagu yang anda dengar selama 5 menit bisa jadi prosesnya berhari hari atau berbulan bulan bahkan. Proses berkarya seni tidak sama dengan pabrik, yang memiliki mesin untuk mencetak produk secara konsisten.  Ide kreatif tidak bisa dipaksa kapan datang nya, banyak factor yang melingkupi.. Kalo saya liat, lagu yang ber durasi 6 menit-an ini saja melibatkan: 1 pencipta,1 drummer, 1 basssit, 3 vokalis, 9 gitaris, 9 studio, dan 2 kota !

 

Kurang lebih seperti inilah yang terjadi dibalik pembuatan album 1000 Gitar…saya harap semua kerja keras rekan rekan tidak sia sia dan apa yang menjadi tujuan kita bersama bisa tercapai. Makin banyak Cd yang terjual, makin banyak uang yang masuk ke rekening sehingga makin banyak pula gitar yang bisa dibagikan kepada anak anak Indonesia.  amin. God bless us !!

 

 

 

 

 

Other News

Posted on: 4 Feb 2014
Share: Share on Facebook
Read 1240 times.

nah.

Posted on: 4 Feb 2014
Share: Share on Facebook
Read 1405 times.

Haiiiiiii !!!

Lama tak jumpa ! mohon maaf web ini sempat terabaikan.

Posted on: 18 Sep 2012
Share: Share on Facebook
Read 1839 times.

halo semua.

Posted on: 19 May 2012
Share: Share on Facebook
Read 2722 times.

Halo.

Posted on: 5 Mar 2012
Share: Share on Facebook
Read 4544 times.

halo, saya dan Sophie Navita sedang merilis lagu baru dengan judul I Love U.

1 2 3 4 5 Next >>